Tolak Film Dokumenter "Pesta Babi", KNPI Kalsel Berbalik Dirujak Netizen: Disebut Anti-Dialog dan Takut Ruang Kritis

0




BALANGANPOST – Niat hati membendung tayangan yang dianggap berpotensi memecah belah, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kalimantan Selatan justru memanen badai hujatan. Seruan penolakan mereka terhadap film dokumenter bertajuk "Pesta Babi" memicu reaksi keras dari warganet. Alih-alih mendapat dukungan, organisasi kepemudaan ini dituding terlalu reaktif, alergi terhadap dialektika, hingga berupaya membungkam kebebasan berekspresi.


Kontroversi ini bermula ketika akun media sosial resmi KNPI Kalsel mengunggah pernyataan sikap yang menolak pemutaran film dokumenter tersebut. Dalam narasinya, KNPI melabeli film itu sebagai bentuk “kolonialisme di zaman sekarang” yang berpotensi memicu prasangka, memperkeruh suasana, dan merusak persatuan di tengah keberagaman bangsa.


Namun, unggahan tersebut justru menjadi bumerang. Kolom komentar akun Instagram KNPI Kalsel seketika dibanjiri cibiran dan kritik pedas dari netizen yang menyayangkan matinya ruang diskursus.


Salah satu kritik tajam dilontarkan oleh akun @widiaaz_, yang menilai langkah KNPI mencerminkan ketakutan terhadap daya kritis masyarakat.


“Kalau kerjaannya cuma menjilat kekuasaan sampai takut sama film dokumenter, itu memalukan! Bukannya membantah isi film dengan data dan fakta, malah sibuk melarang orang menonton. Organisasi pemuda kok mentalnya takut masyarakat berpikir kritis?” tulisnya.


Komentar tak kalah menohok datang dari akun @cecefdjadoel. Ia bahkan secara terbuka mempertanyakan legitimasi KNPI sebagai representasi pemuda, lengkap dengan sindiran berbahasa daerah setempat.


“Mewakili pemuda yang mana? Yang anti dialektika, transaksional, fasis, dan imperialis? Pantas kadasa yang meumpati lah (pantas tidak ada yang ikut)? Bujuran betakun (beneran nanya), buhan pian (kalian) yang bejas biru ini tolong pang padahi konsep kebebasan berkumpul dan berpendapat versi kalian gimana?” tanyanya kritis.


Cibiran bernada apatis juga disuarakan akun @fauzifadilah.id yang menulis singkat, "Alergi kah KNPI Kalsel? Bubarkan aja." Sementara akun @adedae menambahkan, "Seharusnya sekelas KNPI malu memposting seperti ini."


Fakta di Balik Dokumenter "Pesta Babi"

Banyak warganet menyayangkan sikap KNPI karena dinilai gagal menangkap esensi film tersebut. Dokumenter "Pesta Babi" sejatinya merupakan karya visual etnografi yang memotret tradisi masyarakat adat—khususnya di sejumlah wilayah Papua dan komunitas tradisional nusantara lainnya.


Film ini tidak sekadar merekam prosesi pemotongan hewan, melainkan menggali lebih dalam tentang nilai persaudaraan, gotong royong, dan penghormatan terhadap leluhur. Dalam tatanan budaya tertentu, babi bukanlah sekadar hewan ternak biasa. Ia adalah simbol status sosial, medium penghormatan kepada tamu kehormatan, alat rekonsiliasi dan perdamaian antarsuku, hingga instrumen sakral dalam upacara pernikahan, syukuran, maupun ritual kematian.


Melalui lensa dokumenter ini, penonton justru diajak untuk merayakan kebinekaan dengan memahami filosofi budaya yang lahir dari rahim sejarah panjang masyarakat adat nusantara. Banyak pihak menilai, film ini adalah media edukasi agar generasi muda tidak tercerabut dari akar keberagaman Indonesia.


Efek Streisand dan Ujian Kedewasaan Berdemokrasi

Hingga berita ini diturunkan, perdebatan masih terus bergulir panas di linimasa. Ironisnya, seruan boikot dari KNPI Kalsel ini justru menciptakan Streisand Effect—sebuah fenomena di mana upaya penyensoran justru membuat informasi tersebut semakin viral. Kini, dokumenter "Pesta Babi" malah semakin ramai dicari dan diperbincangkan publik luas.


Di satu sisi, ada segelintir pihak yang memaklumi langkah KNPI sebagai bentuk kehati-hatian terhadap isu sensitif. Namun di sisi mayoritas, publik menganggap bahwa sebuah karya seni dan jurnalistik seharusnya dilawan dengan karya, kajian, maupun diskusi terbuka, bukan dengan arogansi pelarangan.


Di tengah derasnya arus kritik digital ini, satu pertanyaan filosofis kini ramai digaungkan netizen: Apakah dengan pelarangan ini masyarakat sedang dilindungi dari potensi konflik sosial, atau justru kita sedang secara paksa dijauhkan dari ruang untuk saling memahami indahnya keberagaman budaya Indonesia?

Tags

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)